skip to Main Content
Balon Seukuran Stadion Akan Bawa Teleskop Ke Langit

Balon Seukuran Stadion Akan Bawa Teleskop ke Langit

NASA sedang menyiapkan sebuah balon seukuran stadion sepakbola untuk membawa teleskop canggih ke permukaan langit. Balon raksasa ini akan mencapai stratosfer agar teleskop yang dia bawa bisa mengamati berbagai bintang yang jauh tanpa dihalangi oleh atmosfer.
Balon mungkin lebih terlihat seperti mainan anak-anak yang ringkih daripada sebuah alat canggih yang bisa membantu kemajuan teknologi. Tetapi kini balon bisa menaikkan derajat dan membuktikan ketangguhan mereka dengan pergi ke tempat yang sangat tinggi, jauh lebih tinggi daripada ketinggian yang mampu dicapai oleh penerbangan pesawat udara komersial.
Balon hebat ini bernama ASTHROS atau Astrophysics Stratospheric Telescope For High Spectral Resolution Observations at Submilimeter-wavelengths. ASTHROS memiliki lebar 150 meter saat terisi penuh dengan helium. ASTHROS akan melayang sampai mencapai ketinggian 40 kilometer, empat kali lebih tinggi daripada ketinggian yang dicapai oleh pesawat komersial. Setelah tiba di posisinya, ASTHROS akan melayang selama tiga minggu sebelum kembali ke permukaan bumi.
Selama penerbangan, balon raksasa ini akan membawa gondola yang menampung sebuah teleskop berukuran 2,5 meter dan instrumen pelengkapnya, antena piring, sejumlah cermin, lensa, dan detektor yang dirancang secara khusus untuk menangkap cahaya infra merah. Ilmuwan akan mengendalikan secara akurat kemana teleskop harus mengarah dan mengunduh data yang didapat secara langsung mempergunakan antena piring dan link satelit.
Teleskop yang dibawa oleh ASTHROS akan dipergunakan untuk mengamati gerakan dan kecepatan gas di sekitar dua bintang yang baru terbentuk di dalam galaksi Bima Sakti, satu bintang di Galaksi Messier 83, dan bintang muda TW Hydrae. ASTHROS akan membuat peta pertama secara 3D mengenai kepadatan, kecepatan, dan gerakan gas dari keempat lokasi tersebut.
Karena sinar infra merah dapat terhalang oleh udara di atmosfer maka untuk melakukan pengamatan, ASTHROS harus berada di tempat yang tinggi. ASTHROS pertama akan berangkat pada Desember 2023 dari Antartika dan mengudara di atas Benua beku itu. Pilihan penggunaan balon dan bukan satelit untuk melakukan pengamatan astronomi dilatari keputusan waktu dan biaya. Balon udara raksasa seperti ASTHROS mampu dipersiapkan dalam waktu yang lebih pendek daripada pesawat luar angkasa dan dengan biaya yang jauh lebih rendah, sehingga walau memiliki resiko tinggi tetapi sebanding dengan hasil yang didapat. “Misi balon seperti ASTHROS memiliki resiko lebih tinggi daripada misi luar angkasa tetapi memberi hasil yang lebih tinggi pada biaya yang rendah,” ujar Joe Siles, Insinyur pada Laboratorium Propulsi Jet NASA yang menjadi Manager Proyek ASTHROS.
Penggunaan balon dalam proyek teknologi tinggi seperti ASTHROS bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya Google telah mencoba mengembangkan balon sebagai stasiun penerima dan pemancar sinyal telekomunikasi yang melayang di ketinggian. Balon ini akan membantu penyediaan jalur komunikasi di daerah terpencil tanpa perlu membangun jaringan menara, juga bisa menyediakan komunikasi secara  cepat di daerah yang porak poranda oleh bencana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top