skip to Main Content
Gereja Tertua Sumatra Selatan Ada Di Lahat, Tempat Yang Tepat Untuk Wisata Reliji Natal Dan Tahun Baru

Gereja Tertua Sumatra Selatan ada di Lahat, Tempat yang Tepat Untuk Wisata Reliji Natal dan Tahun Baru

Gereja tertua di Sumatra Selatan berada di Kecamatan Tanjung Sakti Kabupaten Lahat. Gereja ini telah berusia lebih dari seratus tahun dan menjadi cikal bakal Kesukupan Agung Palembang.

Daerah pegunungan yang sejuk dan tenang adalah tempat yang sempurna untuk dikunjungi selama libur Natal dan Tahun Baru, apalagi bila di tempat itu terdapat gereja bersejarah untuk beribadah. Daerah yang memenuhi persyaratan seperti di atas adalah Tanjung Sakti di Kabupaten Lahat. Kota Kecamatan ini memiliki dua buah gereja tua yang bisa dijadikan sebagai tempat ibadah sekaligus tempat wisata relijius. Dua gereja itu adalah Gereja Santo Mikael dan Gereja Pagar Jati.

Gereja Santo Mikael dibangun di Desa Pajar Bulan, Tanjung Sakti, pada 19 September 1898 oleh Pastor Jan Van Kamper SCJ dan sampai kini masih berdiri kokoh di simpang tiga kecamatan Tanjung Sakti. Santo Mikael dibangun dengan amat sederhana, ukurannya hanya 5 x 9 meter dengan mempergunakan bahan semi permanen.

Tahun 1932 sebuah gereja lain dibangun di Pagar Jati, sebuah dusun yang terletak 10 kilometer dari kota Tanjung Sakti. Gereja Pagar Jati berukuran 7,5 ×6 meter dan dapat menampung sekitar 50 orang. Pada 1942 gereja ini ditinggalkan, tetapi karena memiliki nilai sejarah yang penting, Gereja Pagar Jati diperbaiki pada tahun 2009 dan ditambahi dengan bangunan gua Maria sebagai tempat untuk berdoa.

Berdirinya dua gereja di pedalaman Sumatra Selatan bisa terjadi karena pada masa itu jumlah umat Katolik berkembang pesat. Menurut catatan gereja, pada tahun 1900 terdapat 500 orang penganut Katolik di Kota Tanjung Sakti ini, sementara di Palembang hanya ada 80 orang. Untuk memfasilitasi peribadatan bahkan sebuah Injil dalam bahasa daerah telah diterbitkan di Manna, daerah tetangga yang berbatasan dengan Tanjung Sakti. Pesatnya perkembangan Katolik di kota yang berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut itu membuat Parokinya menjadi cikal bakal Keuskupan Agung Palembang.

Gereja Santo Mikael sekitar tahun 1900-1930.

Gereja Katolik Sumatera Selatan menggeliat sejak tahun 1887 saat seorang misionaris Jesuit P.J.van Meurs SJ datang ke desa kecil di Tanjung Sakti, Pasemah Ulu Manna, yang pada masa itu termasuk ke dalam Karesidenan Bengkulu. Ia memulai misinya dengan membuka sekolah bagi anak-anak asli Pasemah dan melayani pengobatan bagi orang sakit. Pada 15 September 1889, Pastor Meurs untuk pertama kalinya membaptis orang Pasemah yaitu Johannes Gebak beserta keluarganya.

Sejak saat itu jumlah umat Katolik terus bertambah. Umat katolik mencapai 325 orang pada tahun 1898, pada 1902 jumlahnya naik mencapai lebih dari 400 orang, dan pada 1903 jumlah umat katolik di Tanjung Sakti telah berjumlah 590 orang. Jumlah itu terdiri dari 518 penduduk pribumi dan 72 orang Eropa sipil. Jumlah tertinggi umat Katolik dicatat pada 25 Juni 1912 yakni sebanyak 660 orang. Daerah pelayanan pos misi Tanjung Sakti pun diperluas sehingga mencakup Keresidenan Bengkulu dan berbagai daerah di Keresidenan Palembang.

6 Januari 1900, sebuah gempa bumi dahsyat meluluh-lantakkan daerah Bengkulu dan sekitarnya, termasuk pula Tanjung Sakti. Gempa tersebut membuat gereja runtuh dan hanya menyisakan empat buah tembok yang masih berdiri serta sebuah panggung untuk paduan suara. Pada 18 Agustus 1900 Pastor Jennisen membongkar gereja lama yang tersisa dan mempergunakan bahan bangunannya untuk membangun gereja yang baru yang lebih luas yakni Gereja Santo Mikael yang berukuran 19 x 8 meter.

Kini gereja itu masih berdiri kokoh dan dapat kamu jangkau dari Kota Pagar Alam dalam waktu 50 menit perjalanan dengan kendaraan roda empat. Tiba di Tanjung Sakti kamu akan disambut oleh suasana yang sejuk dan tenang, suasana yang sangat cocok untuk beribadah sembari mengenang perjalanan sejarah misi Katolik di Sumatra Selatan. Saat memasuki kota, kamu akan menemukan jejeran rumah kayu tradisional bewarna hitam yang unik di sepanjang jalan. Dari Santo Mikael kamu bisa melanjutkan ke Gereja Pagar Jati.

Setelah puas berwisata reliji, kamu bisa memanjakan kaki dengan berendam di sumber mata air panas. Mata air panas ini muncul secara alami di beberapa aliran sungai yang dangkal di dekat persawahan warga. Disana kamu bisa duduk santai di tepi sungai, merendam kaki yang letih ke air hangat, sembari menikmati pemandangan persawahan dengan latar Pegunungan Bukit Barisan yang megah.

This Post Has One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top