skip to Main Content
Jangan Stres!, Stres Mempercepat Munculnya Uban.

Jangan Stres!, Stres Mempercepat Munculnya Uban.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa stres memiliki hubungan dengan munculnya uban. Sayangnya hubungan ini bersifat merusak dan tidak dapat dikembalikan seperti semula.

Kamu yang berusia muda mungkin pernah mengalami kebingungan saat uban, yang selalu dikaitkan dengan kakek atau nenek, mendadak muncul di antara rambut hitam mengkilatmu. Nyatanya, rambut putih itu bisa muncul di kepala siapa saja tanpa memandang usia, bahkan di kepala anak semuda usia 7 tahun.

Secara umum uban disebabkan oleh penuaan secara alami dan masalah gen, tetapi kini diketahui bahwa stres juga memainkan peran dalam kemunculannya. Dugaan keterlibatan stres telah muncul sejak lama meski belum diketahui bagaimana caranya. Kini penelitian terbaru membuat hubungan antara stres dan uban menjadi jelas.

Rasa sakit yang dialami seseorang, baik secara fisik maupun mental, memicu dilepasnya adrenalin dan kortisol yang membuat jantung berdebar cepat dan tekanan darah meningkat yang lalu memengaruhi sistem saraf dan menyebabkan stres akut.

Proses ini mempercepat menipisnya jumlah sel punca pada folikel rambut yang memproduksi melanin. Akibatnya, rambut mengalami kekurangan zat warna sehingga membuatnya terlihat kelabu. Kerusakan pada sel punca penghasil melanin ini bersifat permanen, sehingga stem sel yang rusak tidak akan pernah dapat menjadi sehat. Karena itu, sekali kehilangan warna maka rambut akan tanpa warna selamanya. Folikel sendiri adalah bagian dari kulit tempat bulu atau rambut tumbuh.

Perbandingan antara dua tikus percobaan. Tikus yang diberi tekanan menjadi stres dan kehilangan warna bulunya.

Dengan membandingkan gen pada tikus yang stres dengan tikus tidak stres, peneliti dapat mengenali protein yang bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi pada sel punca saat stres terjadi. Protein tersangka itu adalah Cyclin-Dependent Kinase (CDK). Saat protein ini ditekan oleh stres maka tikus akan kehilangan warna pada bulunya, sebaliknya bila protein ini dicegah kemunculannya maka tikus percobaan tidak mengalami perubahan warna bulu.

Baca juga: Inilah fosil pertama di dunia yang mewakili otak yang membatu.

Hasil penelitian ini membuka kemungkinan di masa depan bahwa kemunculan uban dapat dikendalikan dengan menciptakan obat yang dapat mencegah munculnya protein CDK. Tim internasional yang melakukan uji coba ini terdiri dari peneliti dari Universitas Sao Paolo dan Universitas Harvard. Mereka menerbitkan hasil penelitiannya di jurnal Nature pada 22 Januari 2020 dengan judul ‘Hyperactivation of sympathetic nerves drives depletion of melanocyte stem cells.’

Penelitian yang sama juga membuktikan bahwa stres bukan hanya mempengaruhi tubuh, tetapi juga kulit dan rambut. Karena itu, jangan sampai stres, ruginya terlalu banyak untuk kesehatan dan penampilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top