skip to Main Content
Listrik Kini Bisa Dipanen Langsung Dari Udara

Listrik Kini Bisa Dipanen Langsung Dari Udara

Ilmuwan berhasil membuat alat yang bisa menghasilkan listrik hanya dengan mengolah udara. Alat ini tidak memerlukan batu bara atau nuklir sebagai bahan bakar, melainkan hanya memerlukan kelembaban udara saja.

Tiga puluh tahun yang lalu sekelompok ilmuwan menemukan organisme endapan di tepian berlumpur Sungai Potomac di Amerika Serikat bagian timur. Organisme bakteri ini menjadi penting karena mampu melakukan sesuatu yang tidak terdapat pada bakteri lain, menghasilkan magnetit.

Magnetit adalah bijih besi yang berupa mineral bewarna kelabu-hitam yang memiliki sifat magnetis dan mengandung oksida besi. Hebatnya, bakteri ini bisa menghasilkan magnetit tanpa memerlukan kehadiran oksigen. Bakteri penghasil bijih besi dari genus Geobacter ini lalu diberi nama G. sulfurreducens. Setelah diteliti lebih lanjut, para ilmuwan menemukan hal yang lebih menakjubkan, G. sulfurreducens juga mampu menghasilkan daya listrik.

Bakteri geobacter Sulfurreducens hanya berukuran 7 mikrometer. Sementara rambut manusia berukuran 17 sampai 50 mikrometer.(alchetron.com)

Dalam laporan penelitian berjudul ‘Power generation from ambient humidity using protein nanowires’ yang terbit 17 Februari 2020 di jurnal Nature menunjukkan bahwa G. sulfurreducens dapat dimanfaatkan untuk menjadi bagian dari bacterial nanowires yang mampu menghasilkan listrik untuk memenuhi kebutuhan manusia. Bacterial nanowires adalah jaringan sangat kecil yang dibuat dari bagian tubuh atau tubuh bakteri yang mampu menghasilkan dan mengalirkan listrik.

Setelah penelitian bertahun-tahun, ilmuwan akhirnya bisa membangun alat yang mampu memanfaatkan kemampuan unik bakteri G. sulfurreducens. Alat yang diberi nama Air-gen ini terdiri dari satu lembar nanowire yang dibuat dari protein yang dihasilkan oleh G. sulfurreducens. Lapisan ini hanya setebal 7 mikrometer atau sepertiga dari rambut manusia yang paling halus. Lapisan nanowire protein ini diletakkan di antara dua buah elektroda tetapi tidak menutupinya sehingga nanowire tetap bersentuhan langsung dengan udara.

Nanowire protein yang bersentuhan dengan udara itu mampu menyerap uap air yang ada di dalam udara dan menciptakan kelembaban yang memicu terjadinya difusi proton dan memengaruhi kedua elektroda dalam cara tertentu yang pada akhirnya membuat lapisan itu mampu menghasilkan aliran listrik.

Peneliti memperkirakan bahwa aliran listrik tercipta oleh perbedaan kelembaban yang menciptakan penyebaran proton ke seluruh bagian nanowire. “Difusi bertenaga listrik ini diduga memicu medan listrik balasan penyeimbang atau potensi analog kepada bagian lain dari membrane dalam sistem biologis,” tulis para peneliti dalam laporan mereka. Perbedaan kelembaban di berbagai bagian membran G. sulfurreducens yang terus terjadi ini berbeda dari yang diamati pada bakteri lain dan menjadi alasan kenapa aliran listrik terus menerus mengalir dari alat nanowire yang mereka buat.

Geobacter sulfurreducens mampu menghasilkan bijh besi dan arus listrik.(bioartstudio.wordpress.com)

Hasil penelitian ini berbeda jauh dengan penelitian lain yang mempergunakan bahan nano lain, seperti graphene, untuk menghasilkan daya. Percobaan-percobaan itu hanya mampu menimbulkan semburan listrik yang pendek, yang bertahan hanya setelah beberapa detik.

Sedangkan listrik yang dihasilkan oleh alat Air-gen yang memanfaatkan bakteri G. sulfurreducens mampu menghasilkan daya sebesar 0,5 volt dengan arus sekitar 17 mikroamper per satu sentimeter persegi. Beberapa alat Air-gen yang dihubungkan satu sama lain akan mampu menyediakan daya yang cukup untuk mengisi ulang alat eletronik kecil, seperti ponsel.

Meski masih terlalu kecil tetapi temuan ini adalah temuan besar yang memberi harapan akan adanya sumber daya listrik dalam skala besar yang ramah lingkungan karena tidak menciptakan polusi.

Penggunaannya di masa depan akan melibatkan sejumlah besar nanowire protein yang dicampur dengan cat yang melapisi dinding, sehingga menyediakan listrik secara mandiri kepada semua alat elektronik di dalam rumah tersebut. Semua listrik yang dihasilkan tidak akan menimbulkan limbah yang menyebabkan polusi karena tidak membutuhkan bahan bakar apapun selain kelembaban di udara, sesuatu yang tersedia dimana-mana, bahkan di wilayah yang amat kering seperti di Gurun Sahara.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top