skip to Main Content
Seni Gua Tertua Di Dunia Yang Dibuat Oleh Manusia Modern Ditemukan Di Sulawesi.

Seni Gua Tertua di Dunia yang Dibuat oleh Manusia Modern Ditemukan di Sulawesi.

Seni hias gua tertua di dunia yang dibuat oleh manusia modern ditemukan di Pulau Sulawesi, Indonesia. Hiasan gua ini dua kali lipat lebih tua daripada hiasan sejenis yang ditemukan di belahan dunia lain.

Manusia modern paling awal yang memiliki budaya berada di Pulau Sulawesi. Bukti kebudayaan itu tersaji dalam bentuk sebuah seni menghias dinding gua dalam cara yang lebih canggih daripada hiasan lain dari bagian dunia mana pun. Temuan ini bisa dianggap sebagai bukti tingginya kebudayaan para leluhur orang Sulawesi.

Seni hias gua tertua di dunia berusia 64.000 tahun yang berada di eropa dan diduga dibuat oleh Neanderthal, salah satu dari dua kerabat manusia modern, Homo Sapiens. Sedangkan seni hias gua tertua yang dibuat oleh Homo Sapiens ditemukan di gua Lascaux di Perancis dengan usia sekitar 17.000 tahun. Tetapi penemuan terbaru di Sulawesi bagian selatan telah melampaui temuan di Perancis itu sampai dua kali lipatnya.

Liang Bulu Sipong di perbukitan karst Pangkep, di Maros menjadi tempat ditemukannya seni hias gua paling awal yang dbuat oleh manusia modern. Seni hias gua ini berupa penggambaran sebuah adegan perburuan yang mungkin dilakukan oleh kelompok si pembuat gambar. Dalam gambar itu muncul figur babi dan anoa yang diburu oleh figur lain yang tampak seperti manusia namun memiliki fitur hewan. Figur ini disebut dengan nama ‘therianthropes’ oleh para ilmuwan. Therianthropes memiliki tubuh seperti manusia dengan beberapa diantaranya memiliki kepala burung dan lainnya memiliki ekor.

“Kami sangat kagum oleh dampak dari citra ini,” ujar Arkeolog dari Australian Research Center for Human Evolution Universitas Griffith Adam Brumm seprti dilansir dari The Guardian. “Temuan ini benar-benar memukau karena ini mungkin adalah seni cadas tertua di mana pun di muka bumi ini,” ungkapnya dengan antusias.

Seni cadas atau seni hias gua ini pertama kali ditemukan pada tahun 2017 dan hanya satu dari ratusan lukisan serupa yang ada di Sulawesi Selatan. Lokasi lukisan kuno ini berada di dalam sebuah gua dengan jalur rumit yang secara rutin didatangi oleh peneliti dan telah dijelajahi dengan baik. Salah satu anggota tim peneliti memerhatikan adanya sebuah lubang masuk ke dalam sebuah ruang besar yang berada di bagian atas gua, dia lalu memanjat sebuah pohon ara untuk menyelidiki. “Lalu, dor, terlihatlah seni cadas baru yang luar biasa ini disana yang pada dasarnya tidak menyerupai apapun yang pernah kami lihat di seluruh wilayah ini,” ujar Adam Brumm lagi.

Pada sebuah dinding selebar empat setengah meter, terdapat lukisan yang menggambarkan situasi perburuan. Dua babi dan empat anoa, hewan asli Sulawesi yang sampai hari ini masih hidup di pulau itu, dikejar oleh sejumlah makhluk serupa manusia dengan kepala burung atau buntut yang memegang pedang panjang atau tali. Usia seni cadas ditentukan dengan melakukan kajian laboratorium atas tumpukan mineral yang berkembang menutupi seni hias gua. Berdasarkan pengukuran atas pembusukan uranium dan elemen lainnya maka usia seni hias gua di Maros ini diperkirakan minimal antara 35.100 sampai 43.900 tahun.

Hasil temuan oleh tim internasional ini lalu dipublikasikan pada tanggal 11 Desember 2019 melalui jurnal terkemuka Nature.

This Post Has One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top