skip to Main Content
Teknologi Pemetaan Laser Berhasil Menemukan Kuil Maya Terbesar Dan Tertua Di Dunia.

Teknologi Pemetaan Laser Berhasil Menemukan Kuil Maya Terbesar dan Tertua di Dunia.

Teknologi tinggi pemetaan laser telah membantu Arkeolog menemukan kuil terbesar dan tertua milik suku Maya di Meksiko. Temuan itu diumumkan oleh tim Peneliti dari Universitas Arizona, Amerika Serikat.

Penemuan bangunan kuno yang terkubur di dalam tanah biasanya memakan waktu bertahan-tahun, melalui sebuah penelitian panjang dan pemetaan manual di lapangan yang mengandalkan pandangan mata. Data lapangan itu lalu dijadikan dasar untuk membuat peta lapangan lengkap dengan ketinggian dan kemiringan medan. Berdasarkan peta itulah arkeolog menentukan lokasi penggalian.

(Takeshi Inomata)

Tetapi teknologi modern telah membantu meringankan kerja para arkeolog. Teknologi itu adalah Light Detecting and Ranging yang kerap disingkat menjadi LIDAR. LIDAR mempergunakan laser yang ditembakkan dari drone atau pesawat yang mengudara di atas lokasi yang hendak diteliti. Sinar laser itu lalu akan dipantulkan oleh permukaan bumi dan pantulannya itu akan ditangkap oleh alat di drone atau pesawat. Setelah diolah, pantulan laser itu akan menghasilkan rupa bumi yang bersih dari gangguan tumbuhan, hewan, dan manusia. Mempergunakan peta itulah para arkeolog bisa melihat rupa bumi yang tidak alami, seperti garis lurus dan sudut, yang hampir pasti dihasilkan oleh kegiatan manusia. Berdasarkan temuan di peta LIDAR, maka arkeolog bisa menentukan dimana mereka sebaiknya melakukan penggalian, dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada sebelumnya.

Teknologi ini dipakai oleh tim Arkeolog dari Universitas Arizona yang melakukan penelitian di Tabasco, Meksiko. Penggunaan teknologi itu membuat mereka berhasil menemukan monumen milik suku Maya yang sangat besar, bahkan jauh lebih besar daripada bangunan di dalam kompleks piramida Giza di Mesir. Bangunan itu mereka beri nama Aguada Fenix.

(Takeshi Inomata)

Dalam laporan yang berjudul ‘Monumental Architecture at Aguada Fenix and the Rise of Maya Civilization’ dan diterbitkan oleh jurnal Nature pada 3 Juji 2020, para peneliti menemukan struktur tanah yang ditinggikan 10 sampai 15 meter dari permukaan tanah di sekitarnya dan memiliki sembilan jalur yang mengarah dari timur ke barat. Struktur tanah itu memiliki panjang 1.400 meter dengan lebar 400 meter dan memiliki volume sekitar 3,8 juta kubik. Jauh lebih besar daripada Piramida Giza yang memiliki volume hanya sebesar 2,6 juta kubik.

Monumen ini begitu besar dan tertutup oleh tanah dan tumbuhan sehingga sangat sulit dikenali bila hanya dilihat dari permukaan tanah saja. “Benda yang horizontal ini begitu besar sehingga bila kamu berjalan di atasnya bangunan itu tampak seperti bagian dari lansekap alami,” ujar Ketua tim Peneliti Takeshi Inomata dari Universitas Arizona. “Tanpa LIDAR kami mungkin tidak akan pernah menyadari pentingnya situs ini, akan butuh waktu kerja yang lama untuk memetakan tempat itu dari darat,” bebernya lagi. Monumen yang mereka temukan diduga dibangun antara tahun 1000 sebelum masehi sampai 800 sebelum masehi, merupakan struktur buatan suku Maya yang paling tua yang telah ditemukan sampai saat ini.

Artefak yang ditemukan di Aguada Fenix.(Takeshi Inomata)

Ini bukan kali pertama teknologi LIDAR membantu Arkeolog menemukan bangunan penting yang telah tertimbun tanah. Teknologi yang sama di masa lalu telah membantu menemukan bangunan kuno peninggalan kekaisaran Khmer di Kamboja. Mungkin sudah waktunya teknologi yang sama dipergunakan untuk meneliti lokasi di Indonesia yang diduga memiliki sejarah penting. Misalnya menembakkan LIDAR ke kota Palembang untuk mencari Istana Sriwijaya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top