skip to Main Content
Teleskop Andalan Rusak, Bumi Kini Hanya Punya Satu Mata

Teleskop Andalan Rusak, Bumi Kini Hanya Punya Satu Mata

Teleskop radio terbesar kedua di dunia mengalami kerusakan parah yang tidak dapat diperbaiki sehingga harus ditinggalkan. Kerusakan ini menyebabkan bumi kehilangan salah satu matanya dalam mengamati benda-benda luar angkasa, terutama yang berbahaya bagi bumi.
Teleskop radio Arecibo adalah teleskop radio yang sangat terkenal, bahkan sampai di luar komunitas sains. Teleskop radio Arecibo dibangun sejak tahun 1960 dan beroperasi pertama kali pada tahun 1963. Selama 57 tahun beroperasi, Arecibo telah berjasa dalam usaha memburu kehidupan cerdas di luar bumi, planet-planet di luar tata surya kita, dan posisi asteroid-asteroid di sekitar bumi dan tata surya. Menemukan asteroid dan memperkirakan orbitnya adalah hal penting untuk mengetahui asteroid mana yang orbitnya terlalu dekat sehingga dapat mengancam menabrak bumi.
Pada tahun 1974, Arecibo memancarkan siaran radio terkuat yang pernah dilakukan manusia. Siaran radio itu diarahkan ke luar angkasa dan ditujukan kepada makhluk cerdas di luar sana, jika mereka memang ada. Lalu pada tahun 2016, teleskop radio Arecibo adalah yang pertama mendeteksi keberadaan fenomena semburan gelombang radio yang cepat atau fast radio burst yang diduga datang dari bintang yang telah mati.
Namun kinerja gemilang teleskop radio yang berada di negara Puerto Rico di Kepulauan Karibia ini harus berakhir dengan menyedihkan.

Bagian penerima sinyal radio seberat 900 ton (ditunjukkan oleh panah merah) digantung di atas piringan utama memakai kabel yang ditumpukan pada tiga menara penahan. (NAIC Arecibo Observatory/NSF; Business Insider)

Masalah dengan Arecibo dimulai pada bulan Agustus 2020 sesaat setelah teleskop itu dilalui oleh badai tropis Isaias. Badai itu membuat sebuah kabel penahan setebal 7,5 cm terlepas dari lubang di salah satu dari tiga menara penyangga dimana dia terpasang. Kabel itu lalu jatuh menghantam piringan teleskop dan menyebabkan lubang besar di permukaannya. Akibatnya usaha perbaikan segera dilakukan dengan meminta konsultasi kepada tiga perusahaan teknik. Tetapi usaha perbaikan akhirnya gagal karena kejadian kedua.
Pada awal bulan November 2020, kabel utama dari menara yang sama putus dan menghancurkan sebagian piringan teleskop. Kejadian ini membuat semua usaha perbaikan dihentikan karena struktur teleskop radio yang semakin rentan untuk ambruk.
Baca juga:
Satu saja gerakan yang salah akan memicu malapetaka. Teleskop ini terdiri atas sebuah piringan selebar 305 meter yang disusun di sebuah cekungan antara beberapa bukit batu. Piringan ini berfungsi sebagai penangkap pancaran radio dari luar angkasa dan memantulkannya ke penangkap sinyal yang digantung di atas piringan. Penangkap ini tergantung melalui kabel kepada tiga buah menara yang didirikan di bibir cekungan bukit
Pengelola Teleskop radio Arecibo kuatir akan keselamatan para pekerja dan teknisi yang akan melakukan perbaikan. Karena satu kabel utama dan satu kabel penyokong telah putus, peralatan penangkap sinyal radio seberat 900 ton yang digantung di atas piringan teleskop bisa jatuh kapan saja ke atas piringan yang ada di bawahnya. Akibatnya, kerusakan yang dialami oleh Arecibo tidak dapat diperbaiki.
Kerusakan yang dialami oleh teleskop radio tertua dan terbesar kedua di dunia ini membuat kemampuan bumi untuk mengamati angkasa berkurang secara drastis. Kini bumi hanya bergantung pada teleskop radio terbesar di dunia FAST di Guizhou, China, yang memiliki diameter piringan selebar 500 meter. Seorang ilmuwan luar angkasa menggambar bahwa bumi kini kehilangan satu mata dan hanya memiliki satu mata yang tersisa untuk melihat ke luar angkasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top