skip to Main Content
Temuan Di Sulawesi Ini Menjadi Bukti Seni Dan Agama Berawal Di Nusantara

Temuan di Sulawesi ini Menjadi Bukti Seni dan Agama Berawal di Nusantara

Temuan mutakhir menjadi bukti bahwa seni dan agama pertama kali berkembang di nusantara. kedua hal itu memerlukan kemampuan kognitif dari manusia modern yang untuk pertama kalinya dalam sejarah dapat dilohat di kalimantan dan Sulawesi.

Baru-baru ini seni hias gua atau seni cadas berupa lukisan dinding yang ditemukan di Maros Sulawesi Selatan menjadi hal yang sangat penting dan mendapat perhatian luas di kalangan ilmuwan. Bukan hanya karena usianya yang sangat tua tetapi juga karena lukisan itu menjadi seni hias gua yang paling rumit yang telah ditemukan sejauh ini di dunia. seni cadas itu juga menjadi petunjuk awal perkembangan agama pada manusia modern.

Lukisan pada dinding Gua Leang Bulu Sipong 4 itu menggambarkan dua ekor babi liar dan empat ekor anoa berukuran raksasa yang sedang diburu oleh sejumlah makhluk lebih kecil yang serupa manusia. Para pemburu mempergunakan sesuatu yang seperti tombak dan tali. Untuk mencapai lukisan berusia 40.000 tahun itu, peneliti harus memanjat ke ruangan lain di atas ruang utama gua.

Legenda pertama

“Sebagian atau keseluruhan aspek dari citra pada seni hias gua ini tidak berkenaan pada pengalaman manusia di dunia nyata,” ujar Arkeolog dan Geokemis dari Universitas Griffith Australia Maxime Aubert kepada Ars Technica. Dia adalah kepala tim yang menjelajahi dan mendokumentasikan berbagai gua karst di Sulawesi dan Kalimantan. Sosok pemburu yang dilukiskan memang tidak seutuhnya manusia. beberapa pemburu tampak memiliki moncong atau paruh dan ada pula yang seperti memiliki ekor.

Saat kemungkinan pertama adalah bahwa para pemburu ini mungkin memakai topeng dan mengenakan kulit hewan, kemungkinan kedua adalah bahwa mereka adalah makhluk imajinasi. Sosok imajiner hasil bayangan si seniman kuno ini di kalangan peneliti disebut sebagai therianthropes yang muncul di penjuru dunia termasuk pada pahatan berusia 40.000 tahun dari Jerman dan lukisan gua berusia 15.500 tahun di Gua Lascaux di Perancis. Hewan yang diburu pun digambarkan dalam ukuran yang melebihi aslinya. Anoa diketahui hanya memiliki tinggi 100 centimeter dan babi liar hanya setinggi 60 centimeter, berbeda jauh dengan ukuran keduanya pada lukisan di dinding Leang Bulu Sipong 4 yang digambarkan luar biasa besar.

Penggambaran dimensi manusia hibrid dan hewan raksasa dalam suasana yang tampak seperti suatu perburuan menunjukkan kemampuan si pelukis untuk berimajinasi dalam menciptakan figur mistis dan mengarang jalan cerita tertentu. Kemampuan membuat kisah dan sosok fiksi ini pada akhirnya melahirkan sesuatu yang kini diyakini sebagai legenda pertama yang diketahui oleh manusia, sebuah legenda perburuan kuno.

Gua sebagai tempat suci atau setidaknya tempat penting

“Untuk mengakses lokasinya harus memanjat dan itu bukan tempat kediaman manusia, jadi orang pergi kesana untuk alasan lain,” ujar Maxime Aubert lagi.

Teori yang mengatakan bahwa seni, mitos, dan tutur muncul pertama kali di eropa lalu menyebar ke seluruh dunia menjadi gugur akibat temuan di Sulawesi. Temuan di Maros ini bersama temuan lain di Pulau Kalimantan meneguhkan dugaan baru bahwa seni, mitos, dan penuturan cerita muncul dan berkembang di nusantara. Peneliti tidak menemukan sisa sampah kegiatan dapur manusia di dalam gua Leang Bulu Sipong 4 yang menandakan bahwa gua ini tidak dipergunakan sebagai tempat tinggal sehari-hari oleh manusia kuno. Pelukis sengaja datang dari gua tempat tinggal mereka menuju ke gua ini untuk menggambarkan adegan perburuan pada dindingnya. Apa yang membuat mereka melakukan itu mungkin karena gua Leang Bulu Sipong 4 dianggap sebagai tempat suci atau setidaknya tempat penting dan para manusia kuno ini dan mereka berusaha menghiasnya dengan gambar-gambar yang layak, seperti kisah dan tokoh mistis yang dipuja.

Leang Bulu Sipong 4 pada akhirnya mungkin dalah tempat pemujaan bagi sebuah keyakinan kuno. Maxime Aubert dan koleganya mengatakan bahwa temuan di Sulawesi dan Kalimantan ini akan memberi kontribusi penting bagi perdebatan mengenai bagaimana manusia mengembangkan agama. Lukisan gua ini memberikan informasi kapan dan dimana manusia pertama kali mengembangkan kemampuan kognitif untuk berfikir mengenai mitos dan agama. Seni kuno ini juga menawarkan informasi mengenai bagaimana kebudayan-kebudayan manusia mengembangkan keyakinan bersama dan mengenai dunia supranatural.

Lukisan Dinding di Gua Lubang Jeriji Saleh, Kalimantan Timur.

Seni hias gua tertua di dunia berusia 60.000 tahun berupa gambar abstrak yang ditemukan di Spanyol yang diduga dibuat oleh neanderthal, bukan homo sapiens alias manusia modern. Sedangkan seni yang lebih rumit dan tinggi yang dihasilkan oleh Homo Sapiens ditemukan di Pulau Kalimantan. Seni itu berupa gambar sapi liar berusia 44.000 tahun di Gua Lubang Jeriji Saleh. Temuan terbaru di sulawesi yang berusia sekitar 40.000 tahun menjadi temuan tertua kedua. Dua lukisan itu adalah karya seni manusia modern yang paling awal yang ditemukan sejauh ini dan keduanya berada di Indonesia. “Penanggalan yang kami dapatkan sejauh ini adalah usia minimal, jadi, lukisan itu kemungkinan besar jauh lebih tua. Mungkin teknik penanggalan baru akan mengungkap usia yang lebih tua untuk seni ini,” ungkap Maxime Aubert.

Gua-gua di perbukitan karst Kalimantan dan Sulawesi telah menjadi naungan dan tempat berteduh bagi manusia modern setidaknya sejak 50.000 tahun yang lalu, bahkan sampai mendekati 65.000 tahun yang lalu berdasarkan temuan di tempat lain di Asia Tenggara. Para peneliti telah menemukan seni hias serupa di 242 gua lainnya tetapi mereka meyakini masih banyak gua yang belum dijelajahi dan didokumentasikan. Masih banyak kejutan lain yang menanti untuk diungkap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top